"Apa benar kamu dan Mas Zian mempunyai hubungan lebih dari sekedar teman?" tanya Vanya saat ia berhadapan langsung dengan Riola -mantan sekretaris suaminya tersebut.
Dadanya sudah kembang kempis menahan amarah yang membuncah di hatinya. Vanya menemukan foto mesra mereka berdua di sebuah tempat hiburan malam, dimana ia melihat suaminya sedang memegang erat pinggang Riola dan hendak menciumnya.
Mendengar pertanyaan langsung dari Vanya, tentu saja Riola merasa terkejut. Ia tidak menyangka bahwa Vanya akan mengetahui hal ini dengan cepat.
"Aku sama suami kamu memang hanya teman biasa kok, Mbak Vanya," jawab Riola singkat, ia mengedikkan bahunya acuh. "Tapi, itu dulu ... Sebelum aku resign dari perusahaan suami kamu."
"Jadi, semua itu benar?" tanya Vanya.
"Diantara kami berdua nggak ada yang salah, Mbak," ucap Riola dengan seringaian licik seraya merapikan poninya yang tertiup angin hingga menutupi mata.
"Aku mohon banget sama kamu, Riola, tolong jangan usik rumah tangga aku lagi. Kita sama-sama perempuan, kamu pasti paham perasaan aku sebagai wanita," kata Vanya dengan mata yang mulai memerah menahan tangis. Ia masih menjaga citra Riola di depan umum, ia tidak mau mempermalukan orang lain apalagi di khalayak ramai seperti tempat mereka berdua berbincang ini. Di Cafe Meet Up favorite Vanya dan juga Zian sewaktu hubungan mereka masih baik-baik saja.
Sebenarnya Riola adalah wanita yang baik, hatinya masih berdesir ngilu saat melihat Vanya memohon padanya sembari memegangi kedua tangan Riola di atas meja. Namun, Riola tidak bisa mengabulkan permohonan Vanya begitu saja.
"Aku nggak bisa!" pungkas Riola, ia menarik kembali tangannya yang dipegang oleh Vanya dengan kasar. Jawabannya membuat Vanya membelalak tidak percaya, ia pikir Riola masih menaruh hati nuraninya dengan baik, tetapi ternyata Vanya salah. Riola bukanlah wanita seperti yang ia bayangkan.
"Kenapa?" tanya Vanya polos.
"Pokoknya aku nggak bisa! Nggak usah paksa aku untuk lepasin suami kamu!"
"Alasannya apa? Karena uang? Iya?!" Vanya mulai menaikkan nada suaranya yang semula pelan menjadi agak tinggi, hingga membuat orang-orang yang duduk di sekitarnya terkejut.
Riola tidak menjawab, ia hanya diam menatap Vanya yang sedang meminta penjelasan padanya. Ia menjadi kesal, karena tuduhan yang Vanya lontarkan, ia bersama dengan Zian bukan hanya karena uang semata.
Dengan emosi, Riola memajukan sedikit dadanya hingga menyentuh meja yang membatasi dirinya dengan Vanya sambil berkata, "Karena aku hamil anaknya Zian!"
Vanya menutup mulutnya dengan kedua tangan, ia sangat shock mendengar perkataan Riola. Air matanya mulai mengalir tanpa diperintah, hatinya terasa remuk bagaikan kaca yang dibanting ke lantai, pecah berkeping-keping hingga tak terbentuk.
Sedangkan Riola? Ia hanya terdiam seraya menaikkan garis senyumnya dengan licik, ia merasa puas melihat Vanya begitu menderita selama enam bulan belakangan. Dimana Riola selalu meminta Zian untuk menginap di hotel bersamanya dan meninggalkan Vanya sendiri di rumah, meminta Zian untuk datang menemaninya disaat Vanya sedang sakit dan masih banyak lagi.
Pantaskah Riola disebut sebagai pelakor alias perebut laki orang yang sedang marak terjadi dimana-mana? Haruskah Vanya menarik rambut panjang Riola yang dibiarkan terurai? Tidak, Vanya tidak sekampungan itu, melakukan kekerasan di depan umum, itu sama saja dengan ia menjatuhkan harga dirinya sebagai istri sah dari suaminya. Tidak elegan!
Vanya menarik napas dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan, ia harus bisa mengontrol emosinya saat ini, jangan sampai ia termakan oleh tipuan berkedok pelakor di depannya.
"Oke, nggak masalah. Kalo kamu nggak mau ninggalin Mas Zian, aku yang akan buat Mas Zian buat ninggalin kamu," tantang Vanya. Ia langsung mengambil tasnya yang berada di kursi sampingnya dan bangkit dari tempat duduk.
Perkataan Vanya cukup membuat Riola sedikit terganggu, ia merasa khawatir jika Ziannya akan menuruti permintaan konyol istri sahnya. Riola pun langsung menarik tangan Vanya dan mencengkeram sampai tangannya terlihat memerah.
"Aku nggak akan membiarkan Zian kembali lagi sama kamu, camkan itu!" ancam Riola dengan mata yang membelalak, seperti ada rasa ketakutan yang terpancar dari matanya. Namun, Vanya tidak peduli. Memang harus Riolalah yang merasakan hal itu.
***
"Sial!" umpat Riola pada dirinya sendiri di dalam mobil yang sedang ia kemudikan. "Zian kemana, sih? Ditelepon malah nggak aktif!"
Berulang kali Riola menggebrakkan tangannya pada stir mobil, mengumpat dan merasa takut pada ancaman Vanya terhadapnya tadi sewaktu di cafe. Ia belum siap untuk kehilangan Zian, masih banyak rencana-rencana indah Riola yang belum terwujud.
"Pikirin rencananya, Riolaaaaaa! Aaaarrrgghh!!!"
Saat ia sedang bergelut dengan pikiran dan ketakutannya, tiba-tiba suara nada dering ponselnya berbunyi. Terlihat nama Zian terpampang di layar ponselnya, buru-buru ia mengambil ponsel dan menggeser icon berwarna hijau ke atas.
"Halo, sayanggg," sapa Riola dengan suara yang mendayu manja. Ia harus bertemu dengan Zian sekarang juga, agar Vanya tidak bisa menghasut Zian untuk meninggalkannya.
"Maaf, sayang, tadi kamu telepon aku lagi ada meeting. Ada apa sayang, kamu telepon aku sampai berkali-kali?" tanya Zian.
"Aku kangeeeennn, mau ketemu," rengek Riola. Memang tidak tahu malu!
Mendengar suara manja nan merdu Riola tentu saja Zian tidak bisa menolak, ia langsung menyetujui permintaan kekasih gelapnya itu dengan sergap, seperti tidak lagi memikirkan istrinya yang sedang menunggu di rumah.
"Oke sayang, kamu tunggu di apartemen, ya, 30 menit lagi aku kesana," kata Zian seraya mengakhiri panggilan mereka berdua.
Tentu saja Riola senang bukan kepalang, suami Vanya lebih memilih bertemu dengan Riola dibanding dengan istrinya.
Di tempat lain, ada Vanya yang sedang berbaring di ranjang kamar tidurnya. Berkali-kali ia melihat ponselnya berharap Zian akan membalas pesan-pesan yang sudah ia kirimkan, namun ternyata Vanya hanya mendapati bahwa Zian hanya membuka pesannya tanpa berniat untuk membalas.
Selama satu jam Vanya menunggu Zian, namun ia tidak kunjung pulang ke rumah. Perasaan Vanya semakin bergemuruh, pikiran negatifnya mulai bercabang memikirkan keberadaan sang suami yang belum juga kembali. Haruskah Vanya menyusulnya?
"Nggak, aku nggak boleh nyusul Mas Zian! Dia masih kerja, Vanya, jangan diganggu," oceh Vanya pada dirinya sendiri. Ia mengetuk-ngetuk kepalanya dengan ponsel yang sedang ia genggam.
Saat Vanya ingin menelepon Zian, tiba-tiba ia mendapati ponselnya berbunyi. Tanda pesan masuk dari Zunaira -sahabat Vanya. Ia mengirimkan satu pesan yang menanyakan keberadaan Vanya.
"Kamu dimana, Vay?" ~Zunaira
"Aku di rumah, ada apa, Zun?" ~Zylvanya
Lokasi diterima ~Zunaira
Kamu cepetan kesini, ya, Vay, aku tunggu! ~Zunaira
Tanpa berpikir panjang, Vanya langsung berganti pakaian dan mengambil kunci mobil yang berada di atas nakas. Ia mengecek kembali lokasi yang dikirimkan oleh Zunaira. Lokasinya tepat di apartemen terkenal di kawasan Tangerang.
"Kenapa Zunaira minta aku kesana, ya?" batin Vanya.
Setelah menempuh jarak sekitar satu jam perjalanan karena padatnya Ibukota, akhirnya Vanya sampai di depan apartemen tersebut dan memarkirkan mobilnya di basement.
Ia menghubungi Zunaira yang terus saja menyuruhnya untuk cepat datang. Vanya menghampiri Zunaira ketika ia melihat Zunaira sdang duduk di loby apartemen sembari memegang majalah di tangan untuk menutupi wajahnya.
"Hei, Zun!" sapa Vanya. Zunaira pun langsung menarik tangan Vanya dan meletakkan jari telunjuknya tepat di depan mulut untuk memberi kode pada Vanya agar tidak bersuara.
"Kenapa, sih?" bisik Vanya seraya menengok ke kanan dan kirinya untuk mengamati sekitar.
"Kamu lihat dua orang yang duduk di bangku seberang sana, itu suami kamu." Zunaira menunjuk ke arah dua orang tersebut.
Vanya menelisik orang yang ditunjuk oleh sahabatnya, dan ternyata benar orang itu memang suaminya. Tapi ... mengapa Zian bersama dengan Riola? Sangat mesra, bahkan melebihi kemesraannya dengan Vanya.
Vanya pun langsung berdiri dan menghampiri suaminya tersebut. Ia menangkupkan kedua tangannya di depan dada.
"Mas Zian?"
***
Bersambung...
Visit my profile instagram for more information @reyvinsasa_

0 Komentar